Rabu, 15-04-2026
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Mendidik Anak Sesuai Zamannya: Merekatkan Kembali Hati yang Jauh

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Pendidikan Anak

Oleh: Endro Abu Hilya

Ayah Bunda yang dirahmati Allah…
Pernahkah kita merasakan situasi yang menyesakkan dada ini: Berbulan-bulan kita menahan rindu saat anak sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Doa tak putus kita langitkan, berharap saat liburan tiba atau jadwal sambangan datang, kita bisa melepas rindu dengan hangat.

Namun, ketika momen pertemuan itu tiba, realita justru berkata lain. Di perjalanan pulang mobil terasa hening. Di rumah, anak langsung masuk kamar, sibuk dengan gawai, atau lebih asyik berkumpul dengan teman lamanya. Pertanyaan antusias kita hanya dijawab sepatah dua patah kata.

Kita merasa anak hadir secara fisik, duduk makan bersama kita, namun jiwanya terasa asing dan jauh.

Jika ini yang dirasakan, jangan buru-buru memvonis anak berubah menjadi “pembangkang”. Kondisi ini adalah alarm bagi kita untuk mengevaluasi kembali pola komunikasi di rumah. Ada kaidah sosial yang berlaku: “Jika telinga orang tua tertutup bagi cerita anak, maka telinga orang lain di luar sana (yang belum tentu membawa kebaikan) pasti akan terbuka lebar untuk mereka.”

 

Memaknai Nasihat “Didiklah Sesuai Zamannya”

Para ulama terdahulu menyadari bahwa tantangan mendidik anak itu dinamis. Metode yang ampuh dipakai kakek-nenek kita dulu, belum tentu mempan diterapkan pada cucunya hari ini.
Sayyiduna Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat berharga yang patut kita renungkan:

لَا تُقْسِرُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى آدَابِكُمْ، فَإِنَّهُمْ مَخْلُوقُونَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ

“Jangan kalian memaksakan adat kebiasaan (secara kaku) kepada anak-anak kalian, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zaman kalian.” (Dikutip oleh Usamah bin Munqidz dalam kitab Lubāb al-Ādāb, hlm. 70)

Nasihat ini bukan ajakan untuk mengubah prinsip agama. Akidah dan syariat adalah harga mati. Namun, yang dimaksud “zaman yang berbeda” adalah pendekatan komunikasinya. Anak-anak hari ini (generasi Z dan Alpha) tumbuh dengan nalar kritis. Memaksakan pola asuh otoriter (“Pokoknya harus nurut, jangan banyak tanya!“) tanpa disertai dialog, sering kali justru membuat mereka antipati dan lari dari orang tua.

Kelembutan adalah Kunci untuk Membuka Hati

Dalam menghadapi anak yang mungkin mulai kritis, “dingin”, atau sulit diatur, Islam mengajarkan kita untuk tidak mengedepankan emosi. Hati manusia sekeras apa pun tidak bisa dilunakkan dengan bentakan. Kunci pembuka hati adalah kelembutan (rahmah). Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَه

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan memburukkannya.” (HR. Muslim)
Hadits ini diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala yang memuji akhlak Nabi:

فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 159)

Rumusnya jelas: Sikap keras hanya akan membuat anak menjauh. Saat orang tua merespons kesalahan dengan amarah meledak, anak belajar untuk berbohong demi mencari selamat. Namun, beda halnya saat orang tua merespons dengan tenang, maka anak belajar untuk jujur dan bertanggung jawab.

 

Langkah Praktis Memulihkan Hubungan dengan Anak

Bagi Ayah Bunda yang merasa hubungannya dengan anak mulai renggang, belum ada kata terlambat. Berikut ini empat langkah praktis yang bisa diterapkan, terutama saat anak sedang liburan di rumah:

Koneksi Dahulu, Koreksi Kemudian
Banyak konflik terjadi karena kita “nafsu” menasihati saat hubungan sedang tidak baik. Ibarat menelepon, pastikan sinyal tersambung kuat sebelum berbicara. Bangunlah kedekatan emosional dulu. Masuklah lewat pintu hobi mereka. Tanyakan kabarnya, bukan langsung menanyakan hafalannya atau nilainya. Ketika anak merasa nyaman dan “terhubung”, barulah nasihat kita akan didengar.

Telinga yang Mau Mendengar
Anak yang membangkang seringkali adalah anak yang merasa perasaannya tidak dimengerti. Saat anak bicara atau terlihat kesal, tahan lisan kita untuk tidak langsung menghakimi. Gunakan kalimat yang memvalidasi perasaan, seperti: “Ayah lihat kamu sepertinya sedang capek nak, mau cerita?” Sikap mau mendengar ini insya’allah akan meruntuhkan tembok ego anak secara perlahan.

Gunakan “Metode Sandwich (Apit)” saat Menegur
Rasulullah ﷺ mengajarkan keadilan, bahkan dalam menegur. Jangan sampai satu kesalahan anak menghapus seluruh kebaikannya. Gunakan teknik apit (sandwich):

  • Roti Atas (Pujian): Awali dengan menyebut kebaikannya. “Masya’allah, Ayah bangga nak, kamu di pondok shalatnya rajin…”
  • Isi Daging (Teguran): Sampaikan inti koreksi dengan santun. “…tapi di rumah tolong HP-nya dikurangi ya, Nak.”
  • Roti Bawah (Dukungan): Tutup dengan doa/motivasi. “Ayah yakin kamu bisa mengatur waktu.”

Sinergi : Rumah adalah Ujian Sesungguhnya

Ingatlah, keberhasilan pendidikan bukan hanya di tangan Ustadz dan Ustadzah. Pondok Pesantren adalah tempat menanam benih, sedangkan Rumah adalah tempat menguji buahnya.
Jangan kaget jika saat liburan anak terlihat “berbeda”. Itu wajar karena di rumah tidak ada CCTV aturan pondok yang ketat.

Tugas kita di rumah adalah merawat kebiasaan baik yang sudah mereka bawa dari pondok pesantren, bukan malah membiarkannya luntur karena fasilitas rumah yang terlalu bebas. Jadikan rumah sebagai madrasah kedua yang hangat dan menyenangkan.

Orang tua tidak dituntut untuk menjadi seperti sosok malaikat yang tanpa celah. Kita hanya diminta untuk terus belajar, berusaha hadir, dan tak lelah mendoakan.
Semoga Allah Ta‘ala memberikan taufiq dan kesabaran kepada kita semua dalam mengemban amanah besar ini, serta menjadikan anak-anak kita penyejuk hati dunia dan akhirat. Aamiin

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Agenda

Pengumuman


  • Penerimaan Santriwati Baru TA. 2026-2027

  • Ujian Tahfizh