Jumat, 17-04-2026
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Teladan Kelembutan dalam Surat Ali Imran : 159 untuk Mendekatkan Hati Anak

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Tadabbur Al-Qur'an

Oleh: Endro Abu Hilya

Ayah, Bunda, pernahkah merasakan momen dimana kita merasa sudah memberikan “segalanya” untuk ananda di pondok ; biaya untuk pendidikan terbaik, kiriman dan uang saku yang cukup, pakaian yang layak, namun saat bertemu atau menelepon, terasa ada jarak yang jauh dan obrolan yang hambar ?

Anak lebih banyak diam. Menjawab pertanyaan kita hanya sepatah dua patah kata, tidak ada antusias maupun rasa gembira. Atau bahkan, matanya enggan menatap lama ke arah kita.

Seringkali kita berpikir apakah karena fasilitas yang kurang ?. Padahal, bisa jadi yang dirindukan ananda bukan tambahan uang saku, atau makanan yang banyak, atau fasilitas yang serba baru, melainkan suasana hati yang nyaman.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan kita tentang rahasia merebut hati manusia melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an surat  Ali Imran ayat 159 :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu…”

Ayat ini turun pasca Perang Uhud. Sebuah momen yang sangat berat, di mana para sahabat melakukan kesalahan taktis yang fatal. Secara manusiawi, wajar jika seorang pemimpin marah, kecewa, atau menghardik. Namun, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ justru memuji kelembutan Nabi ﷺ di situasi segenting itu.

Allah mengingatkan satu kaidah komunikasi: jika beliau ﷺ kasar dan berhati keras, para sahabat (ridhwânallâhi ‘alaihim) pasti akan kabur pergi meninggalkan beliau.

Lantas, bagaimana dengan kita? Anak-anak kita, para santriwati yang sedang berjuang menuntut ilmu ?, tentu mereka pun tak luput dari salah. Pertanyaannya, saat mereka keliru, kita menyambutnya dengan kelembutan atau kekerasan ?.

Silakan Baca Juga : Mendidik Anak Sesuai Zamannya

Lembut Itu Karunia dari Allah

Ayah Bunda, perhatikan awal ayatnya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ

 “Maka berkat rahmat dari Allah”

Ini merupakan poin penting, Ayah Bunda. Kelembutan Rasulullah  ﷺ bukan sekadar watak bawaan, tapi adalah rahmat dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang memenuhi relung dada beliau. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa inilah karunia agung yang membuat siapa pun merasa aman dan betah di dekat Rasulullah ﷺ.

Artinya, rumus menjadi orang tua yang lembut itu sederhana tapi dalam: Dekati Allah dulu, dekati Pencipta Hati dan yang  maha mampu membolak-balikkannya.

Mustahil kita bisa bersabar menghadapi anak remaja jika hubungan kita dengan Allah masih jauh dan tandus. Orang tua yang dekat dengan Allah hatinya lebih lapang. Ia lebih mudah memaafkan kenakalan-kenakalan kecil dan lebih mampu untuk menahan lisannya saat emosi.

Sikap Keras dan Perkataan Kasar Akan Menutup Hati

Pada  Surat Ali Imran ayat 159, Allah telah menyebutkan dua sifat buruk yang tidak boleh ada dalam pendidikan jiwa, yaitu Fazhzhan (sikap / ucapan yang kasar) dan Ghalizhal Qalbi (hati yang keras).

  • Ucapan yang kasar itu tampak nyata seperti bentakan, nada / intonasi tinggi, atau komentar pedas seperti, “Kamu ini  sudah susah payah disekolahkan mahal-mahal kok nilainya cuma segini!” atau “Susah sekali sih kamu ini dibilangin!”
  • Keras Hati itu lebih sunyi, tapi terasa, bisa berupa wajah yang masam, tatapan yang meremehkan, atau sikap mendiamkan anak berhari-hari karena kesal.

Ayah Bunda, hati anak remaja itu seperti kaca. Jika ia merasa setiap kesalahannya akan disambut dengan amarah atau wajah dingin orang tuanya, ia akan memilih mekanisme pertahanan diri, yaitu menghindar atau bahkan mundur.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

 “Niscaya mereka pasti menjauh dari sekitarmu”

“Menjauh” di sini bukan berarti anak lari dari rumah atau kabur dari pondok. Fisiknya mungkin ada di depan kita saat jadwal sambangan, ia mencium tangan kita, tapi pintu hatinya sudah tertutup rapat. Ia tak lagi bercerita masalahnya. Ia memendam lukanya sendiri. Inilah sebenarnya jarak yang paling jauh.

Pelajaran dari Kisah Anas bin Malik

Ayah Bunda,

Rasulullah ﷺ adalah teladan puncak dalam hal ini. Mari kita renungkan kesaksian sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata ‘ah’ (cis/uff) kepadaku sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Coba kita bayangkan rentang waktu sepuluh tahun itu. Anas bin Malik mulai melayani Rasulullah ﷺ saat masih kanak-kanak hingga tumbuh menjadi pemuda. Itu adalah fase usia di mana seorang anak lazimnya masih ceroboh, sering lupa, atau belum cekatan.

Sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Dalam kurun waktu selama itu, sebagai manusia biasa, tentu ada kekeliruan dan kelalaian, ada perintah yang terlewat dikerjakan, atau ada pekerjaan yang hasilnya kurang rapi.

Namun, yang dikenang oleh sahabat Anas bin Malik bukanlah teguran, melainkan penerimaan. Rasulullah ﷺ tidak menghabiskan energi untuk mengoreksi kesalahan teknis dengan omelan yang menyerang pribadi. Beliau memaklumi proses belajar seorang remaja. Tidak ada kata-kata yang mematahkan semangat, tidak ada helaan napas kasar yang menyiratkan “kamu ini malah merepotkan”. Rasulullah ﷺ mendidik dengan memberikan rasa aman, sehingga Anas tumbuh menjadi pribadi yang hebat justru karena ia tidak takut untuk berbuat dan belajar.

Jika Nabi saja bisa menahan lisan selama 10 tahun pada seorang pelayan, bagaimana dengan kita terhadap anak kandung, darah daging sendiri?

Tiga Resep Membangun Bonding dengan Anak dalam QS. Ali Imran: 159

Di ujung ayat yang mulia ini, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memberikan tiga PR bagi para orang tua agar hati anak tetap lekat dan tidak menjauh :

  1. Fa’fuw ‘anhum (Maafkan mereka secara tuntas)

Memaafkan di sini bukan sekadar lisan mengucapkan “Ya, Umi  maafkan.” Akan tetapi lebih dalam dari itu, fa’fuw bermakna memafkan dengan menghapus bekasnya.

Seringnya kita mengaku sudah memaafkan, tapi saat anak membuat kesalahan baru, kita mengungkit-ungkit lagi kesalahannya yang lama. “Tuh kan, kamu ulangi lagi. Dulu juga kamu begini, sekarang diulangi lagi.” Hal seperti inilah yang seringkali membuat anak remaja merasa dipojokkan oleh orang tuanya sendiri.

Ayah Bunda, mari kita belajar “mereset” hati. Ketika kita memaafkan kesalahan anak kita hari ini, anggaplah itu kejadian yang sudah selesai. Jangan dijadikan tabungan amarah untuk masa depan. Hati orang tua yang bersih dari dendam akan memancarkan wajah yang teduh. Dan keteduhan itulah yang membuat anak berani dan betah bercerita tanpa takut dihakimi, disalahkan.

  1. Waghfir lahum (Mohonkan ampun untuk mereka)

Ada kalanya nasihat kita tumpul bagi mereka. Kita bicara lembut tidak didengar, kita bicara tegas malah mereka membantah. Jika hal ini terjadi, coba berhenti sejenak dari menasihati mereka, kita perlu melangitkan permohonan kepada Pemilik hatinya agar dilembutkan dan diberi petunjuk.

Bisa jadi, ada “sumbatan” di hati anak yang menghalanginya menerima kebenaran, atau mungkin ada dosa-dosa kita sendiri yang menjadi penghalang hidayah bagi mereka. Maka, dengan tulus dan kerendahan hati mintakan ampunan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ khusus untuk anak kita di saat-saat munajat dan waktu-waktu mustajab.

“Ya Allah, ampunilah dosa putraku… bersihkan hatinya dari noda yang membuatnya keras kepala. Aku ridha padanya, maka ridhailah dia.”

Ingat Ayah Bunda, doa orang tua (terutama ibu) menembus pintu-pintu langit tanpa hambatan. Seringkali, anak berubah menjadi lebih baik bukan karena hebatnya kata-kata kita, tapi karena rintihan doa kita (orang tuanya) yang memohonkan ampunan baginya di sepertiga malam terakhir.

  1. Wasyawirhum fil amri (Dan ajaklah mereka bermusyawarah)

Anak-anak santriwati kita yang telah tumbuh remaja bukan lagi balita yang hanya bisa menerima instruksi “makan ini”, “pakai itu”, atau “jangan ke sana”. Mereka sudah tumbuh akalnya dan punya perasaannya sendiri.

Salah satu cara memuliakan mereka adalah dengan nguwongke (memanusiakan) mereka melalui musyawarah. Kurangi gaya komunikasi satu arah (komando), dan mulai perbanyak diskusi seperti sahabatnya.

Misalnya soal uang saku atau target hafalan.

Alih-alih mendikte, “Pokoknya uang jajanmu sebulan cuma segini ya kak!”, cobalah ajak ia duduk dan bertanya,

“Kak, dengan kebutuhanmu di pondok sekarang, kira-kira cukupnya berapa? Yuk kita hitung bareng kemampuan Ayah.”

 Atau,

“Liburan nanti Kakak ingin kegiatan apa? Kita rencanakan bersama ya.”

Ketika anak diajak bicara dan pendapatnya didengar, insya’allah mereka merasa dianggap dewasa dan dipercaya. Dampaknya luar biasa: mereka akan melaksanakan aturan bukan karena takut dimarahi, tapi karena merasa ikut bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat bersama.

♦♦♦

Ayah Bunda, anak-anak kita tidak butuh orang tua yang sempurna tanpa cela. Mereka hanya butuh orang tua yang hangat.

Rumah (dan kehadiran kita) harus menjadi tempat di mana mereka bisa “pulang” dalam arti sebenarnya. Tempat di mana ketika mereka salah, mereka dibimbing,bukan dihakimi. Tempat di mana ketika mereka lelah menghafalkam Al-Quran, mereka mendapatkan pelukan, bukan tuntutan.

Semoga Allah melembutkan hati kita, agar kita bisa menjadi jalan kebaikan bagi anak-anak kita. Aamiin

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Agenda

Pengumuman


  • Penerimaan Santriwati Baru TA. 2026-2027

  • Ujian Tahfizh