Kamis, 16-04-2026
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
  • Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Menjadi Ayah yang Benar-benar Hadir Dalam Pendidikan

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Pendidikan Anak

Oleh : Endro Abu Hilya

 Ayah Bunda yang dirahmati Allah,

Hari ini putri-putri kita belajar di pondok pesantren. Mereka secara rutin bangun sebelum Fajar, menghafalkan Al-Qur’an, mengaji, belajar adab dan ilmu. Kita bersyukur karena Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah mereka menuju lingkungan yang baik.

Namun Ayah Bunda, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, meski mereka belajar di pondok pesantren, tanggung jawab utama pendidikan tetap berada di pundak orang tua, terutama ayah.

Pesantren membantu, ustadz dan ustadzah mengajari dan membimbing. Lingkungan mendukung. Tetapi fondasi iman dan rasa aman seorang anak tetap dibangun dari rumahnya, terutama dari sosok ayahnya.

Ayah adalah Pemimpin yang Akan Ditanya

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 893)

Sering kita mendengar bahwa Ibu adalah Al-Madrasatul Ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Jika Ibu adalah sekolahnya, maka Ayah adalah Kepala Sekolahnya. Ayahlah yang menentukan visi: mau dibawa ke mana keluarga ini? Kurikulum apa yang harus ditanamkan di hati anak-anak?

Maka, peran Ayah sebagai Qawwam (pemimpin) tidak semata-mata soal memberi nafkah finansial. Lebih dari itu, Ayah bertugas memberikan perlindungan emosional (Himayah) dan bimbingan adab (Ta’dib).

Ayah adalah pemimpin keluarga, khususnya bagi anak perempuannya. Namun, peran ini tak hanya sebatas mencari nafkah atau mencukupi materi semata. Lebih dari itu, Ayah bertugas memberikan rasa aman (Himayah) dan bimbingan adab (Ta’dib) yang menjadi benteng pelindung bagi hati sang putri.

Oleh karena itu, ketika kita memutuskan menyekolahkan putri tercinta ke pesantren, langkah mulia ini bukanlah tanda bahwa tugas orang tua telah usai. Justru di sinilah peran ayah bagi putrinya semakin penting : mendoakan dengan tulus, memantau perkembangannya, serta menjadi tempat pulang yang hangat dan menenangkan. Putri kita mungkin jauh secara fisik, tetapi jangan sampai ia merasa jauh dari hati ayahnya.

Pendidikan Iman Dimulai dari Rumah

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

   “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat ia menasihatinya, “Wahai ananda, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Luqman al-Hakim menanamkan iman kepada anaknya dengan penuh kelembutan. Ia tidak hanya menyampaikan pesan tauhid, tetapi juga menghadirkannya dengan kasih sayang dan panggilan yang menyejukkan hati.

Begitu pula dengan putri-putri kita. Mereka memang belajar tauhid di kelas, tetapi keyakinan yang kokoh tumbuh dari percakapan sederhana di rumah: dari doa ayah yang lirih di malam hari, dari nasihat berkesan sebelum kembali ke pesantren, atau dari pesan hangat yang disampaikan saat kunjungan maupun lewat telepon. Semua itu menjadi penguat hati yang tidak tergantikan.

Anak perempuan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perhatian ayahnya. Sering kali, satu kalimat lembut yang diucapkan orang tua bisa menjadi pegangan hidupnya bertahun-tahun. Maka, jangan pernah meremehkan kekuatan doa dan kata-kata sederhana. Sebab, pendidikan iman sesungguhnya dimulai dari rumah, dari hati orang tua yang tulus, lalu mengalir ke hati anak dengan lembut.

Anak Perempuan Belajar tentang Laki-Laki dari Ayahnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci, dan orang tualah yang paling berpengaruh membentuk kepribadiannya. Bagi seorang anak perempuan, laki-laki pertama yang ia kenal dan ia jadikan contoh adalah Ayahnya.

Dari Ayahnyalah ia belajar bagaimana seharusnya laki-laki bersikap. Ia akan melihat bagaimana Ayah berbicara kepada Ibu, bagaimana Ayah menyelesaikan masalah, hingga bagaimana Ayah menjaga shalatnya. Jika Ayahnya adalah sosok yang menjaga kehormatan dan lembut namun tegas, insyaa’allah ia akan meniru sifat mulia tersebut.

Di sinilah peran Ayah menjadi sangat penting untuk menjaga pergaulan putrinya.

Ada satu hal yang perlu kita ingat baik-baik: Anak perempuan yang mendapatkan cukup kasih sayang dan perhatian dari ayahnya, akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi.

Jika di rumah ia sudah merasa dicintai, didengar, dan dihargai oleh Ayahnya, ia tidak akan mudah tergoda oleh rayuan laki-laki yang belum halal di luar sana. Ia tidak akan sibuk mencari perhatian orang lain, karena hatinya sudah “penuh” dan “kenyang” dengan kasih sayang tulus dari Ayahnya sendiri.

Sebaliknya, jika ia kurang perhatian dari Ayahnya, ia berisiko mencari kasih sayang itu di tempat yang salah.

Maka, meskipun pondok pesantren mengajarkan ilmu agama, tetaplah Ayah yang membangun rasa aman di hatinya. Jadilah Ayah yang benar-benar hadir, agar putri kita tumbuh menjadi wanita yang terhormat dan terjaga dari pergaulan yang salah.

Kekuatan dan Kemandirian

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ

“Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan berkuda.” (HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mendorong anak-anak tumbuh dengan kekuatan fisik, keberanian, dan keterampilan hidup (sosial). Nilai ini berlaku bukan hanya untuk anak laki-laki, tetapi juga untuk anak perempuan. Putri kita pun perlu dilatih agar berani, mandiri, dan teguh menghadapi tantangan.

Ketika putri kita belajar jauh dari rumah, misalnya dengan mondok di pesantren, sesungguhnya ia  sedang ditempa untuk menjadi pribadi yang tangguh. Putri kita belajar mengatasi rasa rindu, mengatur dirinya sendiri, berinteraksi sosial dan menghadapi berbagai kesulitan dengan sabar. Semua itu adalah bagian dari latihan kemandirian yang akan membentuk karakter kuat dalam dirinya.

Di sinilah peran ayah menjadi sangat penting. Tugas ayah bukan sekadar memberi izin, tetapi juga mendukung dengan doa, kepercayaan, dan bimbingan. Jangan terburu-buru meremehkan kemampuan putri kita. Berikan ia  kepercayaan, namun tetap arahkan. Dampingi ia tanpa mengekang, agar ia merasa aman sekaligus bebas untuk berkembang.

Kekuatan anak perempuan bukan hanya terletak pada fisiknya, tetapi juga pada keberanian hatinya. Dan keberanian itu tumbuh ketika ia tahu bahwa ayahnya percaya padanya. Dengan dukungan yang tepat, insyaa’allah ia akan tumbuh menjadi wanita yang mandiri, tegar, dan siap menghadapi kehidupan dengan penuh keyakinan.

Jangan Hanya Membiayai, Tapi Membersamai

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin, lalu ia meninggal dalam keadaan mengkhianatinya, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari)

Para Ayah yang Allah rahmati,

Amanah kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah naungan kita. Mengabaikan amanah tidak selalu dalam bentuk kekerasan, kadang justru hadir dalam kelalaian ; merasa cukup dengan memberi materi, tetapi tidak benar-benar hadir untuk mendampingi dan membimbing.

Menyekolahkan anak ke pesantren, misalnya, tidak berarti seluruh tanggung jawab berpindah ke pihak pesantren. Membayar biaya pendidikan memang penting, tetapi itu bukanlah inti dari mendidik. Putri kita tetap membutuhkan perhatian ayahnya, tetap menanti nasihatnya, dan tetap merindukan doa tulus yang dipanjatkan di sepertiga malam.

Ayah bukan hanya sosok pencari nafkah, tetapi juga pendamping perjalanan. Perhatian, doa, dan nasihat ayah adalah bagian dari pendidikan yang tidak bisa digantikan siapa pun. Maka, jangan berhenti pada peran sebagai penyedia biaya. Jadilah ayah yang membersamai, yang hadir dalam doa, dalam kata-kata, dan dalam teladan. Sebab amanah itu bukan sekadar memberi, melainkan menemani dan menuntun agar anak tumbuh dengan fitrah yang terjaga.

Doa Ayah adalah Penjaga yang Tak Terlihat

Seorang anak perempuan memiliki hati yang lembut. ia mungkin tampak kuat di hadapan teman-temannya, tetapi tetap membutuhkan doa ayah bundanya sebagai penopang yang tak terlihat. Jangan pernah lelah menyebut namanya dalam doa. Mohonkan untuknya keteguhan iman, kehormatan diri, dan jodoh yang shalih di masa depan.

Boleh jadi, kelancaran hafalan, kebaikan adab, dan langkah yang terjaga hari ini adalah buah dari doa ayah yang terus mengalir tanpa henti.

Penutup

Para ayah yang Allah muliakan,

Kita telah memilih jalan terbaik dengan menitipkan putri-putri kita di pondok pesantren. Namun amanah itu tidak berhenti di sana. Tugas kita adalah terus membersamai mereka dengan doa, perhatian, dan teladan yang nyata. Jangan hanya merasa bangga ketika mereka meraih prestasi. Lebih besar kebanggaan itu ketika mereka menjaga shalatnya, menutup auratnya dengan hijab sesuai syariat, dan memelihara kehormatannya.

Semoga Allah menjadikan putri-putri kita wanita shalihah, penyejuk mata, dan pemberat timbangan amal shalih di akhirat kelak. Aamiin

Wallahu waliyyut taufiq.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Agenda

Pengumuman


  • Penerimaan Santriwati Baru TA. 2026-2027

  • Ujian Tahfizh